Image

Jika anda adalah kandidat yang dapat dikategorikan sebagai golongan melek internet, biasanya anda telah memiliki akun media sosial. Mendata akun yang telah anda punya adalah salah satu langkah awal untuk mengelola media sosial anda. Cobalah dengan mulai menjawab pertanyaan dibawah ini.

  • Apakah anda memiliki akun Facebook? Twitter? Instagram?
  • Apa user id akun anda?
  • Berapa jumlah pengikut anda di Facebook? Twitter? Instagram?
  • Seberapa sering anda berinteraksi dengan user di Facebook? Twitter? Instagram?
  • Bagaimana tanggapan mereka terhadap anda? Berapa komentar yang anda dapatkan? Berapa likes setiap unggahan? Berapa retweet dari setiap unggahan anda?
  • Jika anda lupa, coba masuk pada mesin pencarian dan input nama lengkap anda. Disana anda akan menemukan akun apa saja yang sudah sempat anda buat di dunia maya.

Setelah mendata akun yang pernah anda miliki, berikut hal-hal yang perlu anda perhatikan :

Pertama, rekam jejak digital. Mungkin saja anda memiliki akun yang sudah sejak kuliah anda gunakan dan berisi konten yang akan merugikan anda dalam membentuk persona baru. Misalnya akun yang berisi rekam jejak kegalauan anda atau dikenal oleh generasi milenial sebagai ‘akun jaman alay’. Dengan mendata akun yang telah anda punya, anda memiliki pilihan untuk membuat akun baru dan menghapus akun lama, atau tetap menggunakan akun lama dengan pertimbangan modal sosial (followers, interaksi) namun memfilter dan menghapus unggahan lama yang dianggap tidak sesuai dengan keperluan anda sekarang. Pada era big data saat ini, rekam jejak digital akan menjadi suatu boomerang bagi siapa saja yang ingin membangun citra baru. Anda tentu tidak ingin tweet umpatan anda dengan kawan lama atau postingan lama anda yang bernada galau dijadikan senjata oleh pesaing anda untuk menjatuhkan citra anda.

Kedua, setelah anda memiliki akun media sosial yang akan digunakan, pastikan akun media sosial anda menggunakan nama asli anda. Jika mungkin, usahakan semua akun media sosial anda menggunakan user id yang sama. Penggunaan nama asli pada akun terkait erat dengan kredibilitas anda sebagai sebuah persona digital dan kesan yang ingin anda bentuk. Selain itu penggunaan nama asli dan user id yang sama akan memudahkan pencarian karena tiap kali orang lain mencari nama anda, logaritma tiap media sosial akan mengarahkan pemilih langsung pada akun anda.

Memilih Persona Baru di Media Sosial

Dalam pengelolaan media sosial, ada yang disebut sebagai digital persona. Digital persona adalah bagian dari identitas individu yang ditampilkan di ranah online. Sederhananya digital persona adalah tokoh, atau citra diri  yang diperlihatkan di media sosial. Bapak Slamet di dunia nyata adalah seorang pejabat pemerintahan yang terkenal tegas dan taktis dalam memimpin rapat, tapi bapak slamet di media sosial adalah seorang pemain game yang handal serta ayah yang sangat jahil terhadap kedua anaknya. Bapak Slamet di media sosial adalah contoh dari digital persona. Digital persona seseorang bisa saja sangat berbeda dengan kehidupan dunia nyatanya.

Karakter seperti apa yang dapat dibentuk? Mulailah dari bagaimana anda ingin dilihat di media sosial. Namun kandidat perlu mengingat bahwa meskipun digital persona dapat berbeda dengan dunia nyata, akan tetapi konsistensi menjadi salah satu poin yang perlu diperhatikan. Maka sebaiknya persona yang dibentuk di media sosial tidak begitu berbeda dengan kepribadian anda di dunia nyata. Karakter yang anda tampilkan di media sosial juga sebaiknya selaras dengan citra diinginkan.

Kita ambil contoh persona digital di dunia politik. Contohnya, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi membentuk persona di media sosial sebagai seorang yang merakyat, sederhana, rendah hati. Sementara Walikota Bandung Ridwan Kamil membentuk persona sebagai pemimpin muda, gaul, sayang istri. Persona kedua kandidat ini telah disesuaikan dengan visi yang diusung, gaya pemerintahan dan tentu saja khalayak pemilih mereka yang berbeda. Penentuan digital persona ini juga akan berpengaruh pada gaya penceritaan maupun bahasa yang digunakan.

Gaya Ridwan Kamil misalnya lebih santai, ceplas-ceplos, dan tidak segan berinteraksi maupun saling ejek melalui kolom komentar dengan pengikutnya. Ridwan Kamil juga dikenal seringkali menyindir para kaum single atau disebutnya kaum jomblo. Ridwan Kamil pun tak sungkan menggambarkan istrinya Atalia Kamil sebagai inti cerita. Sedangkan Dedi Mulyadi dalam setiap unggahannya lebih santun dan sederhana. Dedi lebih sering menonjolkan kegiatannya blusukan, foto bersama janda tua, maupun pesan-pesan yang bersifat humanis. Dedi Mulyadi juga lebih sering menggunakan latar belakangnya yang dahulu hidup kekurangan sebagai background cerita. Gaya ini digunakan Dedi untuk menimbulkan keterikatan secara emosional dengan pengikutnya di media sosial.

Bahasa yang digunakan keduanya pun berbeda. Ridwan Kamil lebih sering menggunakan bahasa kasual dengan perpaduan istilah yang digunakan oleh anak muda di dunia internet. Selain itu Ridwan Kamil juga menggunakan perpaduan bahasa inggris untuk dapat menjangkau warga Bandung yang cenderung berpendidikan. Pesan utama yang ingin disampaikan Ridwan Kamil adalah pemimpin yang humoris, mudah bergaul, dan berpendidikan. Pesan ini dirasa cocok untuk menjangkau pemilih muda di Kota Bandung yang mencapai 30% dari keseluruhan pemilih. Sementara itu, Dedi Mulyadi lebih menggunakan bahasa yang lebih formal dan sifatnya informatif. Pesan yang disampaikan pun lebih lugas dan sederhana untuk dicerna. Pesan utama yang ingin disampaikan oleh Dedi Mulyadi adalah kesederhaanaan, ketulusan, pemimpin yang bersahaja. Pesan ini cocok untuk menjangkau pemilih yang mayoritas merupakan masyarakat pedesaan.

Blog
Membangun Persona di Media Sosial

16, Aug 2019

Merancang Strategi Kampanye

16, Aug 2019

Instagram dan WhatsApp Berganti Nama

16, Aug 2019

Mengapa Media Monitoring Menjadi Penting?

16, Aug 2019

Merancang Konten Instagram

16, Aug 2019